CERMIN
http://www.rmolsumut.com/read/2018/12/05/60221/CERMIN-
Cermin
Cermin yang berada di depanku masih
kutatap, memantulkan wajahku yang anggun
dengan kebaya biru tua yang penuh bordiran di tepinya dan kain senada paduan
warnanya ditambah lagi dengan hiasan hijab yang menutupi rambutku. Baru kali
ini aku berdandan dengan kebaya yang juga dinanti-nantikan oleh setiap wantia.
Ya Allah, aku tidak pernah
membayangkan hidupku dapat berjalan seperti yang kualami sekarang. Masih
terbayang dipikiranku. Ketika itu, aku mematut-matut seragam SMA di depan
cermin ini sambil berkata kepada ibuku. “Mak, Agni cantik, ya, pakai seragam
SMA ini. Coba dech, kalau Bapak masih ada, pasti Agni mengenakan seragam ini
yang baru dan berangkat ke sekolah.Tapi sayang… Bapak sudah tidak ada lagi.
Jadi, Agni tidak bisa mengenakannya ke sekolah karena tidak ada biaya masuk
SMA. Padahal Agni diterima, ya, Mak. Mengapa Allah begitu cepat memanggil
Bapak, Mak? Sementara kita masih membutuhkan kasih sayang Bapak, membutuhkan
biaya kuliah Kakak, biaya sekolah Agni, dan adik-adik. Sementara teman-teman
Agni yang tidak diterima di sekolah negeri, mereka dapat menikmati sekolah
dengan membayar uang masuk jutaan rupiah karena mereka mampu dan bapaknya masih
ada”.
Amak selalu memeluk dan menciumku
jika aku sudah berujar seperti itu dengan mengenakan seragam SMA yang diberikan
oleh tetanggaku yang baru lulus. Setiap hari aku mematut-matut diriku di depan
cermin dengan berseragam SMA. Setiap pukul 11 siang aku mandi bersamaan dengan tetanggaku,
teman SMP-ku yang akan bersiap-siap ke sekolah. Padahal beberapa teman SMP-ku yang
kebetulan juga tetanggaku, seperti Ita, Neni, dan Alex tidak terima di SMA
negeri. Karena uang orang tuanya banyak, mereka bisa masuk SMA negeri.
Sementara itu, aku sudah diterima di SMA negeri tetapi tidak dapat melanjutkan
sekolah karena uang ibuku yang sedikit untuk biaya kuliah kakakku yang juga
dapat di perguruan tinggi negeri, Universitas Andalas. Jadi, aku diminta ibuku
untuk istirahat dulu dengan janji Insya Allah tahun depan ada rezeki, aku bisa mendaftar
lagi ke SMA.
Yah… itulah rutinitasku sejak tahun
pelajaran sekolah mulai berjalan. Aku mandi, mematut diri berseragam SMA di
depan cermin selalu bicara danmenangis atas kepergian bapakku yang setahun lalu
telah dipanggil Allah karena penyakit lever yang dideritanya.
Bulan keduanya ibuku tidak kuat lagi
melihat kehidupanku berhari-hari seperti ini sehingga ibuku berbicara ketika
aku kembali mematut diri dengan seragam SMA di depan cermin. “Agni, Amak tidak
sanggup lagi melihat kamu seperti ini terus, kamu bisa stress dan sakit, Nak.
Malah tambah banyak biaya pengobatan kamu nanti. Amak janji, Nak, kamu akan
sekolah tahun ini. Amak janji, yakinlah, Nak. Amak janji demi masa depan kamu,
demi mewujudkan cita-citamu. Demi amanah bapakmu, Nak.” Amak memelukku
kuat-kuat dengan tangisan kami berdua.
“Mak, bukan Agni menyesali hidup ini
tetapi Agni sedih, Mak karena melihat teman-teman sekolah sedangkan Agni tidak bisa sekolah.
Padahal Agni, kan tidak bodoh, Mak… Agni juga ingin meraih cita-cita, Agni
ingin jadi guru, Mak. Mengapa Allah begitu cepat mengambil Bapak, mengapa hidup
kita melarat, Mak…? Hanya karena kita tidak punya biaya. Bapak hanya seorang
sopir truk, tidak meninggalkan harta bahkan kita mengontrak rumah tidak layak yang
kita tempati sekarang. Allah tidak adil, Mak, apa salah kita, Mak…?
“Agni… istighfar, Nak…. Kamu tidak
boleh bicara seperti itu. Jangan salahkan takdir Allah, Nak. Yakinlah, Nak…
Allah sudah mengatur semuanya ini. Allah menjanjikan kehidupan kita karena
Allah tahu kita pasti kuat,pasti bisa menjalani semuanya, Nak…!
“Mak… Agni ingin sekolah, Agni ingin
menjadi guru, Agni ingin mengangkat kehidupan kita ini. Biarlah Agni kerja di
rumah orang… yang penting Agni bisa sekolah, Mak… Agni ingin mewujudkan
cita-cita, Agni ingin membahagiakan Amak.” Tangisan dan pelukan itu seakan
tidak reda dan tidak lepas antara aku dan ibuku.
@@@@@@@
“Agni… lama sekali bercerminnya,
Nak…? Lho, kok kamu menangis, ada apa, Nak…? Nanti make-up-mu luntur, lho. Tidak kelihatan lagi cantiknya…” Amak memasuki
kamarku dengan kaget.
“Ah, gak, Mak. Agni terharu, Agni
ingat tujuh tahun yang lalu. Agni sering mematut-matut diri sambil bicara
sendiri di cermin ini Agni menangis di depan cermin ini karena belum masuk
sekolah SMA. Agni tidak menyangka ternyata bisa menyelesaikan kuliah. Agni
bersyukur dan berterima kasih. Semuanya berkat Amak. Amak yang memperjuangkan
Agni untuk sekolah, Amak telah mewujudkan cita-cita Agni dulu, sekarang mendapat
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dan akan menjadi guru. Terima kasih, Mak… atas
semuanya. Syukur Alhamdulillah, ya Allah… ini karena ridha-Mu…. Alhamdulillah,
ya Allah….”
“Ya, Nak. Kita hurus bersyukur atas
semua kemudahan ini. Ini tidak hanya perjuangan Amak tetapi kegigihan kamu yang
menjalankannya terutama karena ridha Allah.”
“Masih teringat di pelupuk mata
Amak, kamu bercermin dengan seragam SMA, tersenyum sendiri meskipun teriris
hatimu atas keadaan yang kita jalani sehingga terbuka pikiran Amak untuk
meminjam uang kepada rentenir. Kita tidak sanggup membayarnya. Sementara Amak
berjualan masih sedikit. Untung saja Bapak Syafar, saudagar kaya dan
keluarganya menolong kita, meminjamkan modal untuk dagangan dan meringankan
cicilan utang Amak kepada rentenir. Dua bulan kamu menjalani kegiatan itu. Jika
teman-temanmu bersiap-siap ke sekolah, kamu juga bersiap-siap. Kamu mandi,
mengganti baju dengan seragam sekolah, dan bercermin sampai beberapa jam. Amak hanya bisa menghibur kamu dan kamu
menangis dalam pelukan Amak. Untung saja SMA yang kamu daftarkan mau menerimamu
setelah Amak menceritakan masalahnya kepada kepala sekolah.” Ujar Amak sambil
menatapku dengan penuh bahagia dan suka cita dengan berlinang air mata.
@@@@@@@
“Mak, sudah pukul enam. Ayo… kita
berangkat, nanti kita terlambat, tidak dapat tempat duduk nanti!” Saatku sadar
melirik jam bergantung di dinding kamarku.
Oh, iya. Ayo, kita bergegas!” Abang
dan adik-adikku juga disuruh bersiap-siap oleh ibuku. Antara rumah dan kampusku
memang cukup jauh, hampir satu jam perjalanan. Rumahku di Teluk Bayur, ujung
kota Padang, kota pelabuhan sedangkan kampusku Univesitas Negeri Padang di Air
Tawar.
Kami memasuki aula kampus Universitas
Negeri Padang, tempat seremonial wisudawan dilantik. Gedung ini sudah dipenuhi
para wisudawan dan anggota keluarganya. Aula ini dipenuhi oleh wisudawan dari
semua jurusan beserta anggota keluarganya, panitia mahasiswa, para dosen dan
dilengkapi dengan atribut acara tersebut.
Kami memasuki ruangan yang nyaman
dan megah itu. Saya menuju tempat duduk yang telah disediakan panitia, di hall bawah untuk para wisudawan
sedangkan anggota keluargaku yang menyaksikan acara berada di hall atas bergabung dengan anggota
keluarga wisudawan lainnya.
@@@@@@@
“Nurita Agni, S.Pd. dengan nomor
29”. Aku kaget ketika namaku dipanggil. Ternyata saat duduk, aku melamun sambal
menatap wajahku di cermin dinding pembatas ruangan samping kananku. Aku tidak
memerhatikan keadaan di sekelilingku sampai-sampai namaku dipanggil tiga kali
dan baru tersadar saat dikejutkan oleh teman di sampingku.
Dengan rasa haru, bahagia, dan
sedikit gemetar, aku melangkahkan kakiku ke depan untuk dilantik sebagai
Sarjana Pendidikan. Sebuah gelar yang kuimpikan dan tidak terpikirkan bahwa akan
tercapai. Benar, ini semuanya atas kehendakk-Mu, ya, Allah.
Selesai acara resmi, aku foto
bersama dosen, teman-teman, dan panitia lainnya. Setelah berfoto, aku mencari
ibuku dan saudara-saudaraku. Dari kerumunan pengunjung, aku melihat sosok
wanita baya yang menunjukkan gurat-gurat tua di wajahnya dengan penuh senyum
keibuan. Sosok wanita yang selama ini selalu mendampingiku, memperjuangkanku,
memotivasiku, dan meyakiniku untuk keberhasilan diriku.
“Amak….”
“Terima
… ka…sih…. Terima … ka…si…h…. Terima … k…a…si…hhh….” Aku menangis dalam pelukan
ibuku dengan terisak dan penuh haru sampai orang-orang di sekelilingku
memerhatikan kami. Kami terharu dalam pelukan, tidak dapat berujar lagi. Hanya
pelukan yang penuh makna dan tatapan mata yang dalam pada kami berdua.
“Eeeeehhhhhhhh…. Wisuda kok
menangis, luntur make up-nya itu! Kami belum foto, lho. Kalau tidak bagus
hasilnya, kan tidak bisa dipajang di dinding rumah. Apalagi dilihat oleh
orang-orang di sekeliling kita, nich….” Ujar kakakku yang nomor dua.
Aku jadi malu dengan kakakku ini.
Beliau bisa berbesar hati melihat keberhasilanku menjadi sarjana karena dia
hanya menikmati kuliah sampai semester enam. Tuntutan waktu pekerjaan dia
bersamaan dengan waktu kuliah sehingga dia lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya
karena juga membantu ibuku untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku.
“Iya, nich…. Kita kan mau gembira di
sini! Harus memperlihatkan wajah yang cerah, cantik, dan penuh senyum. Tidak
membangun suasana sedih dengan tangisan!” Riri,adik ragilku juga ikut menyela.
“Ayo …. Kita salaman dulu, kasih
“selamat” buat saudara kita yang telah menambah namanya menjadi Nurita Agni,
S.Pd. jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNP Padang. “Congratulation, my
sister! Ha…ha…ha….” Linda, adikku yang persis di bawahku menyalami dan
memelukku, menghangatkan suasana gembira.
“Iya, saudara kalian sudah berhasil
menyelesaikan pendidikannya. Kita mensyukuri semua ini dan mendoakan
keberhasilan saudaramu semoga sebagai langkah awal kita untuk mengarungi cita-cita
kita bersama. Seperti pepatah mengatakan “Mengangkat batang (pohon) terendam.
Amak berharap agar Agni dapat sebagai “cerminan” buat keluarga kita sehingga
memicu semangat untuk keberhasilan yang lainnya! Di pundakmu mungkin akan
memikul beban yang berat. Akan tetapi, dengan kebersamaan dan keutuhan keluarga
kita akan meringankan langkahmu menuju kesuksesan. Kelak kamu tidah hanya
menjadi “cermin” buat saudaramu tetapi juga buat tempat kamu hidup di
masyarakat dan lingkungan kerjamu. Yang penting, kita harus ikhtiar dan tawakal
untuk mewujudkan asa yang dibangun. Jangan menyerah, berjuang terus dan jangan
sombong akan keberhasilanmu itu, Nak!” Nasihat ibuku dengan penuh berbinar.
“Iya, Mak. Terima kasih dan doakan
untuk keberhasilan anakmu. Doa dan dukungan Amak, kakak-kakak, dan adik-adik
sangat kuharapkan untuk mengayuh biduk menuju ke tepian.” Sambutku dengan penuh
keyakinan. Langkah kami meninggalkan ruangan dengan penuh tekad dan harapan
keberhasilan.
Kenangan
kampung halaman
Teluk
Bayur tercinta dan kampusku UNP
YARNITA
AGNI
SMK
NEGERI 6 KOTA BEKASI
Komentar
Posting Komentar