Kupinang Kau dengan Syaratmu

 

                                                            Kupinang Kau dengan Syaratmu


“Mau salat Ashar, Han…? Salat di Al Azhar ya… aku antar ke sana! Di Al Azhar itu tempatnya luas dan bagus”. Belum sempat aku menetralisasikan pikiranku dengan pertanyaan pertama ajakan salat dari Zahran, semakin mengagumi dan memesona diriku kepadanya. Betapa tidak, lelaki di sampingku ini memiliki prestasi yang negatif di mata teman-temanku. Cowok yang bandel, suka menjahili teman bahkan guru, sering bolos dan merokok di kantin luar samping sekolahku. Sekarang mengajak aku untuk salat di masjid yang besar dan terkenal itu. Subhanallah… Ini lelaki harapan setiap wanita yang kelak dapat menjadi imam keluarga hingga membuat hayalanku terlalu jauh dengannya. Padahal dia baru beberapa bulan kukenal sejak kepindahanku dari Padang  ke Jakarta karena ayahku pindah dinas.

“Hey… aku ajak salat, koq malah bengong? Ada yang salah dengan diriku?” Eh, nggak… Tidak ada apa-apa, koq.” Jawabku dengan penuh gugup sehingga membuyarkan lamunanku. “Iya, boleh…aku juga belum pernah ke masjid Al Azhar.” jawabku dengan semangat. Kami pun berangkat, aku diboncengi Zahran dari Blok M ke masjid Al Azhar. Sekolahku dan Zahran memang tidak jauh dari Blok M, SMA Dharma Karya. Kebetulan kami pulang sekolah lebih cepat karena tadi ada pengumuman bahwa guru-guru mau rapat untuk persiapan pengawas silang Ujian Nasional. Jadi, beberapa temanku, Aura, Fanny, Gaby, dan Galuh mengajakku main ke Blok M Square. Setiba di sana, entah kebetulan kami ketemu Zahran dan komunitasnya sesama di sekolah. Kami bergabung, dan pulangnya Zahran menawarkanku pulang bareng karena rumahku searah dengannya.

Setiba di  masjid Al Azhar, waktu salat Ashar akan masuk kami langsung menuju parkiran motor. Aku turun tetapi Zahran masih tetap di motor. Aku pandangi wajahnya dengan tanda tanya, Zahran masih tak bergeming di atas motornya. “Kamu gak salat?, tanyaku. “Sory, Han, aku gak salat, hanya nganterin kamu saja.” Jawab Zahran. “Koq begitu, bukankah setiap umat Islam wajib salat apalagi sudah akil baliq?” tanyaku masih penasaran. “Sudah… nanti saja aku salatnya, sudah azan, tuh… Nanti kamu telat” jawab Zahran sedikit memaksaku masuk ke masjid. Tanpa melanjutkan pertanyaan, aku pun mulai berjalan menuju masjid dengan rasa penasaran yang masih terhinggap.

Sejak saat itu aku makin penasaran dengan Zahran. Rasa penasaran dan keinginanku untuk mengajak dia salat semakin kuat. Betapa tidak, setiap aku pergi bersama Zahran, waktu salat datang, dia selalu mengajakku ke masjid untuk salat jamaah. Dia selalu mengajakku ke masjid yang besar dan bagus. Dia mengajakku ke masjid Blok M Square, ke masjid Pasaraya Blok M, bahkan ke masjid Istiqlal. Dia pun sekilas menceritakan masjid tersebut, tetapi dia selalu hanya menemani… dan  mengantarkanku untuk salat. Dia selalu menungguku di depan masjid.  Setiap aku tanyakan mengapa dia tidak salat, jawabannya selalu nanti saja. Setiap kuajak salat, dia selalu menyuruh aku duluan saja salat.

“Zahran, happy birthday, tak terasa, ya… Kita dekat sudah hampir setahun” ungkapku dengan gembira ketika kami merayakan ulang tahun Zahran di salah satu café Blok M. “Terima kasih, Qihan… kamu sudah bersedia menemaniku selama ini, semoga selamanya kita bersama” jawab Zahran dengan senang.

“Coba tebak, kado apa yang aku bawakan untukmu?” tanyaku penuh berbinar. “Hmmm… sepertinya baju.” jawab Zahran sedikit cuek.  “Bukan.” jawabku. “Apa, ya… biasanya cewek begitu, gak jauh dari baju kalau ngasih kado buat pacarnya.” jawab Zahran lagi. “Aku ingin kasih kamu kado yang istimewa. Mungkin tidak banyak seorang cewek memberikan kado ini kepada pacarnya tetapi aku ingin memberikannya agar dapat kamu pakai selamanya.” jelasku tentang kado yang akan kuberikan.

 “Apa itu…?” tanya Zahran dengan rasa penasaran sambil menerima kado tersebut. “Apaan ini, kamu menyuruhku salat…? Sudah berapa kali kusampaikan, aku gak mau kalau beribadah itu disuruh-suruh, dipaksa oleh orang. Aku ingin menjalaninya sendiri dengan kesadaranku. Yang penting,  selama ini aku baik sama kamu, menghargai kamu, menemani kamu tanpa ada rasa paksaan, bahkan kita menyatukan hati pun tidak dipaksa, kan? Kamu juga tidak dipaksa, kan menerimaku…?” penjelasan Zahran yang bertubi-tubi membuat aku hanya terdiam kaku. Aku bingung dalam kekagetanku. Aku tidak menyangka Zahran sangat marah kepadaku.

“Zahran, selama ini aku masih memaklumimu, aku masih menghargaimu… tetapi kalau hubungan kita tanpa didasarkan agama, aku tidak bisa melanjutkannya. Aku ingin punya pendamping hidupku, orang yang selalu ingat kepada Allah,  salat itulah yang membentengi diri kita. Bagaimana kelak kamu menjadi imamku, bagaimana kita bisa membangun rumah tangga, mengajak anak-anak salat berjamaah. Bagiku, itu syarat utama dalam berumah tangga.”

 “Selama ini kita banyak perbedaan… temanmu, komunitasmu, kegiatanmu yang jauh berbeda persepsi denganku…. Aku masih bisa menerimanya.   Akan tetapi, … jika aku mengajakmu salat, membuat kamu marah begini…. Untuk apa hubungan ini kita lanjutkan…? Bukan untuk saling mengenal diri kita, bukan untuk melengkapi dan memperbaiki diri kita…. Bagaimana kamu mendampingiku jika tidak bisa menjadi imamku yang baik…?”  jelasku dengan nada tinggi dan sedikit mengancam kepada Zahran.

“Oh… kamu mengancamku, Han? Maksud kamu kita tidak usah melanjutkan hubungan kita…?” tanya Zahran dengan mukanya yang merah karena menahan emosi. “Baik… jika itu maumu. Kita cukupkan saja hubungan kita sampai di sini! Yok, kuantar pulang.” perintah Zahran sembari menarik lenganku  sehingga orang di sekeliling kami merasa terganggu dengan keributan itu. Aku dan Zahran langsung ke luar menuju parkiran motor. Tak terasa air mataku mulai menetes. Saat itu aku merasa tak berdaya, tidak punya kekuatan, harapanku… anganku untuk bersamanya hilang saat itu. Aku ingin cepat sampai di rumah. Aku ingin menumpahkan segala rasa ini di kamarku.

Ya Allah… begitu sulitkah kutakhlukkan hati Zahran untuk menuju kebaikan…? Aku ingin dia menjadi imamku yang takut kepada-Mu, ya Allah… Aku ingin dia menjalani salat yang merupakan kewajiban kami sebagai umat-Mu….

 Seketika aku merasa kehilangan dengan sosok Zahran yang kukagumi selama ini. Zahran yang pintar, baik kepadaku, selalu membawa prestasi di klub basket sekolahku. Apalagi  dengan posturnya yang atletis dan tampangnya seperti Cha Eun Wu, membuat aku tidak bisa menolak ketika dia berkeinginan lebih dekat denganku, ingin melindungiku dan mengisi hari-hariku bersamanya.

Sejak peristiwa itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Zahran sudah hilang dari kehidupanku bahkan informasi dari sahabatku, Fanny, Gaby, Galuh, bahkan Aura yang biasa tahu informasi kehidupan sekolah pun tidak mengetahui keberadaan Zahran. Aku dan semua sahabatku berpencar bersamaan dengan kehidupan kami sudah berbeda  karena kuliah kami juga berbeda, hanya dengan Aura aku masih satu kampus. Aura mengambil jurusan Farmasi dan aku kedokteran di Universitas Indonesia, Jakarta. Terakhirnya aku tahu, Zahran kuliah di ITB, Bandung, Teknik Dirgantara.

“Sekarang Zahran tentu sudah kerja, ya, Aura” tiba-tiba tanyaku kepada Aura saat kami minum di kafe Blok M, tempat terakhirku bersama Zahran. “Hello… putri cantik,  angin apa yang membawamu ajukan pertanyaan itu? Ternyata itu yang membuatmu masih bertahan dengan kesendiriamu? Selama ini aku tanyakan selalu jawabanmu… ‘Aku ingin fokus kuliah dulu, di kedokteran itu kan berat, nanti kuliahku berantakan kalau memikirkan cowok saat kuliah’.” ujar Aura dengan rasa heran dan sedikit meledekku.

“Tidak apa-apa… hanya ingat saja dan ingin tahu beritanya.…” elakku kepada Aura. “Eit… tunggu, Han… sepertinya aku temukan jawabannya.” ujar Aura sambil memandang jauh ke luar. “Jawaban apa…?” aku juga ikut memandang ke luar. “Ya Allah… sosok lelaki yang kami bicarkan memasuki kafe ini” Aku kaget dan tanpa sadar menutup wajahku. “Gak mungkin… gak mungkin aku katemu dia dengan situasi saat ini” lirihku yang masih kututup wajahku.

“Zahran….” jeritan Aura mengagetkanku dan semua pengunjung di kafe itu. Nama yang dipanggil pun tidak kalah kagetnya. Aura mengajak Zahran bergabung dengan kami. Mereka asyik bercerita tentang kuliah dan pekerjaan mereka. Aku lebih banyak diam sembari mengamati lelaki di depanku ini. Dia tidak jauh berbeda masih handsome, dan sedikit berwibawa. Aku tidak bisa menghindar ketika tawaran Zahran mengantarkanku pulang apalagi Aura memberi alasan untuk pulang lebih dulu yang aku yakin rekayasa dia.

Tinggal kami berdua sambil berjalan ke luar. Kudengar suara azan Ashar. Kami saling memandang dan terdiam dengan pikiran masing-masing. “Qihan, ke masjid, yuk… salat Ashar! Masih berlaku, kan… syarat itu untukku? tanya Zahran yang belum sempat kujawab ajakannya.

 

YARNITA AGNI

Bekasi, 28 Oktober 2020

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERMIN